Wakaf Produktif PRM Longkeyang: Manfaatkan Potensi Lokal, Berkembang di Tengah Keterbatasan

0
Pemimpin Redaksi Tabloid Cermin Badrun Nuri bersama salah satu kader PRM Longkeyang mengujungi kawasan perkebunan wakaf produktif PRM Longkeyang. (foto/istimewa)

Tinggal di kawasan terpencil dan terbatas tak menghalangi Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Desa Longkeyang Kecamatan Bodeh Kabupaten Pemalang, untuk kreatif mengelola persyarikatan. Justru karena keterbatasan itulah sejumlah Kader Muhammadiyah yang hidup di pelosok Kabupaten Pemalang ini berhasil memanfaatkan potensi lokal. Berawal dari iuran receh, berkembang menjadi wakaf produktif perkebunan cengkeh.

Laporan Badrun Nuri, Pemimpin Redaksi Tabloid Cermin PWM Jawa Tengah

DESA Longkeyang berdekatan dengan salah satu desa di Kecamatan Bodeh, berbatasan dengan Kecamatan Kesesi Kabupaten Pekalongan. Untuk sampai ke Desa Longkeyang butuh waktu sekitar 2 jam dari pusat Kabupaten Pemalang. Meskipun berdasarkan Google Map, jarak Kantor Bupati Pemalang ke Desa Longkeyang hanya sekitar 33 KM.

Medan jalan yang berliku, naik turun, melintang di tengah hutan karet  menjadi salah satu sebab perjalanan butuh waktu lebih lama. Namun itulah jalan utama menuju desa tersebut dari pusat Kota Kabupaten Pemalang. Melalui medan itu pula, siapapun yang datang ke Desa Longkeyang sesekali akan dimanjakan indahnya Sungai Kaliwadas. Seru, namun sedikit mengerikan karena sungai memanjang di tepian jurang.

Di sanalah sekitar 200 warga Muhammadiyah hidup dan menggerakkan syiar dakwah Muhammadiyah. Di bawah naungan PRM Desa Longkeyang, warga Muhammadiyah hidup berdampingan dengan warga Nahdlatul Ulama, Rifaiyah, dan warga lainnya. Total penduduk di Desa Longkeyang sebanyak 3766 jiwa. Mereka hidup di atas bumi Desa Longkeyang seluas 479 hektare. Muhammadiyah di Desa Longkeyang sudah ada sejak tahun 1980-an, dibawa warga setempat yang konon menjadi tokoh agama sepulang dari pondok pesantren.

Warga Muhammadiyah hanya sekitar 3 persen dari keseluruhan penduduk. Menjadi minoritas dan terbatas tak lantas membuat mereka pasrah. Justru karena keterbatasan itu warga Muhamamdiyah menjadi kreatif dan produktif menghidupkan persyarikatan. Salah satunya keberhasilan mengembangkan wakaf produktif dengan kepemilikan aset tanah mencapai 3 hektare, presentase tertinggi dalam kepemilikan tanah di Desa Longkeyang.

Keberhasilan PRM Longkeyang telah diakui. Tahun 2018, PRM Longkeyang mendapat penghargaan sebagai Pengembangan Ranting Alternatif oleh Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Keberhasilan PRM Longkeyang dimulai sejak tahun 2006 silam. Saat itu, PRM Longkeyang membentuk Badan Pekerja Pengembangan Ranting Muhammadiyah (BP2RM). Lembaga khusus pengembangan ranting, sebuah lembaga ad hock yang memiliki jangka kerja 20 tahun. BP2RM bergerak menjalankan visi Muhammadiyah Longkeyang dengan dua tujuan di masa depan, perkaderan dan aset kekayaan.

BP2RM bergerak melalui wakaf produktif. Wakaf yang berorientasi pada pengembangan aset. Dimulai dengan iuran receh sebesar Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu rupiah per bulan yang ditarik dari anggota dan simpatisan, baik di dalam dan di luar Longkeyang. Pada kesempatan yang sama, ada yang mewakafkan tanah. Ada juga yang mewakafkan pohon, seperti cengkeh, albasia (kayu sengon), dan mrica.

Semua aset yang terkumpul kemudian dikelola dan dikembangkan. Keuntungannya digunakan untuk membeli tanah. Keuntungan tidak diperuntukkan untuk yang lain, karena mengelola pertanian di Desa Longkeyang dinilai lebih memungkinkan untuk dikembangkan.

“Bidang pertanian ini adalah cara realistis yang kami pilih karena menyesuaikan dengan kondisi masyarakat dan agraris di Desa Longkeyang,” kata Fahruri, Ketua BP2RM PRM Longkeyang kepada tabloidcermin.com belum lama ini.

Fahruri menceritakan, semula tanah yang dimiliki PRM Longkeyang hanya seluas 1000 M Persegi. Melalui wakaf produktif yang secara telaten, kini tanah PRM Longkeyang sudah mencapai 3 hektare, 1 hektare ditanami pohon albasia, 1/2 hektare ditanami merica, dan 1.500 ditanam cengkeh. Dalam rupiah, kekayaan PRM Longkeyang sekitar 1 Milyar.

PRM Longkeyang sengaja belum membangun gedung AUM berupa sekolah atau lembaga kesehatan. Menurut Fahruri, PRM Longkeyang saat ini masih fokus pengembangan aset. Setelah aset melimpah, baru akan membangun gedung-gedung AUM. Segala pembiayaan akan menggunakan biaya mandiri, tidak lagi ingin bergantung pada bantuan atau iuran.

“Semuanya sudah dalam rancangan. Jadi meski sekolah nanti siswanya sedikit, gurunya tetap akan kami gaji tinggi,” ujar Fahruri.

Fahruri melanjutkan, kekayaan PRM Longkeyang akan diperuntukkan juga untuk perkaderan. Saat ini PRM Longkeyang membiyai kader muda untuk mempedalam ilmu agama ke Timur Tengah. Akan dipuntukkan juga untuk membiayai kader untuk sekolah kodekteran dan disiplin keilmuan lain sesuai minat.

“Mereka yang dibiayai PRM Longkeyang akan dikontrak setelah lulus kembali dan membangun PRM Longkeyang. Kami akan MoU dengan orang tuanya juga,” tambahnya.

Fahruri menambahkan, masalah yang masih dihadapi Muhammadiyah saat ini adalah krisis kader. Dari sisi mengelola AUM, Muhammadiyah tidak diragukan lagi. Hanya saja, semangat mengelola AUM perlu dibarengi dengan menyiapkan kader.

“Ada salah satu daerah yang memiliki rumah bersalin yang bagus tapi tidak memiliki masjid. Hal tersebut berhasil mengelola AUM tapi gagal merawat jamaah,” ujar Fahruri.

Karena itu, PRM Longkeyang mendorong kadernya, terutama kader muda, untuk melanjutkan studi ke pondok pesantren. Sementara ini, PRM Longkeyang telah mengembangkan jaringan dengan pondok pesantren, kampus Muhammadiyah, Panti Asuhan, dan Sekolah Muhammadiyah. Hal tersebut dilakukan untuk menyalurkan kader Muhammadiyah di Desa Longkeyang agar bisa melanjutkan pendidikan.

Pemimpin Redaksi Tabloid Cermin Bandrun Nuri bersama kader Muhammaadiyah PRM Longkeyang di kawasan perkebunan wakaf produktif milik PRM Longkeyang. (foto/istimewa)

Milik Sosial, Kepentingan Universal
Inisiator Wakaf Produktif PRM Longkeyang Casroni mengatakan, wakaf produktif dipilih PRM Longkeyang karena secara aset wakaf produktif milik sosial dan manfaatnya bisa untuk kepentingan universal. Dengan begitu, manfaat wakaf produktif dapat digunakan untuk membantu setiap orang, sekalipun beda agama dan keyakinan.

Menurut Casroni, wakaf merupakan bentuk ibadah paling mudah dan bisa diterima oleh siapa saja, ormas apa saja, komunitas apa saja. Sehingga dapat menghindarkan dari masalah khilafiyah dan Asshobiyah antar ormas keagamaan.

“Ini namanya wakaf dengan cara gotong-royong. Kalau sahabat Utsman kan memang kaya raya. Kita seadanyam. Jadi, ini pendekatan yang berlawanan dengan pendekatan kekerasan, juga ini pendekatan kerahmatan,” jelas Casroni kepada tabloidcermin.com di Semarang, awal Februari 2020 lalu.

Lebih lanjut Casroni menjelaskan, wakaf merupakan ibadah dalam Islam yang bisa dikembangkan sebagai kekuatan ekonomi umat. Casroni menceritakan dibalik besarnya Al Azhar, Mesir, sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di dunia.

“Lembaga pendidikan tersebut hasil wakaf zaman keemasan Islam yang masih ada hingga hari ini. Sepertiga uang Mesir, itu milik Al Azhar. Maka, hakikat dari hadis shadaqatin jariyah, adalah wakaf produktif itu,” terangnya.

Sebab itu, Casroni  berharap wakaf dapat menjadi gaya hidup kaum muslim di Indonesia. Saat ini, PRM Longkeyang membina 30 anak sebagai kader untuk ummat. Dengan perincian 20 anak ada tingkat pendidikan SLTP dan SLTA  dan 10 anak di perguruan tinggi.

“Dana bantuan pembinaan belum mengambil dana wakafnya, tapi bersumber dari infaq para anak mudanya, anggota dan simpatisannya,” jelas Casroni. []

Editor: M. Arif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here