Aura Politik Dilematis

0
M. Danusiri/Istimewa

Oleh: M. Danusiri*

TabloidCermin.Com – Realitas sejarah politik di dunia manapun selalu menghadirkan konflik sosial. Karena begitu kerasnya konflik dalam politik, Nicolo Machiavely mendefinisikan manusia sebagai serigala satu bagi lainnya (homohomini lopus). Artinya, kalau sudah merambah kehidupan politik, hakikat kemanusiaan manusia hilang dan berubah menjadi serigala. Itulah sebabnya tatanan apapun: tradisi, kultural, sosial, seni, estetika, maupun agama sangat terganggu, meskipun format politik yang paling moderat sekalipun.

Sejarah peralihan kekuasaan di negeri ini sejak zaman kuno: dari kerajaan Kediri pecah menjadi dua yaitu Daha dan Kediri, dari Kediri ke Majapahit, dari Majapahit ke kerajaan Islam Bintara Demak, dari kerajaan Demak ke kerajaan Pajang di solo, dari Pajang Solo ke kerajaan Mataram Yogyakarta, era penjajahan VOC, Hindia-Belanda, Portugis, Inggris sebagai bagian dari sekutu, Nippon Jepang, Belanda berusaha kembali ke Indonesia, dari penjajahan ke kemerdekaan, dari kemerdekaan ke era orde lama, dari orde lama ke orde baru, dari orde baru ke Indonesia baru, dari Indonesia baru ke era sekarang ini, selalu menumpahkan darah. Korbannya justru kebenyakan orang-orang yang tidak akan menerima kue gurihnya politik. Sungguh realitas politik selalu memilukan, tetapi anehnya manusia justru gemar bertaruh judi di hingar-bingarnya politik.

Keharusan Ada Pemimpin
Rasulullah saw mengharuskan umat, di manapun dan kapanpun, ada pemimpinnya. Demikian hal ini dapat dilihat di salah satu sabda beliau:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا خَرَجَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ

Dari Abu Sa’id al-Khudri, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila ada tiga orang yang keluar dalam suatu perjalanan, maka hendaknya mereka menunjuk salah seorang dari mereka sebagai pemimpin (HR. Abu Dawud, 2241, 2242; Ahmad, 6360).

Dari hadis ini dapat dipahami bahwa hanya kepentingan sementara dan hanya terdiri atas tiga orang. satu diantaranya harus diangkat menjadi pemimpin, apalagi kalau kumpulan orang itu disebut bangsa dan mendiami areal bumi yang begitu luas. Keberadaan pemimpin adalah suatu keniscayaan.

Karena kehadiran pemimpin begitu urgen, hingga Rasullah menganjurkan sabar jika ada tindakan pemimpin menjadikan rakyat tidak senang, susah, dan gelisah. Demikian sabda Nabi:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ خَالَفَ الْجَمَاعَة شِبْرًا فَمَاتَ فَمِيتَتُهُ جَاهِلِيَّةٌ

Dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa melihat sesuatu yang dia benci dari pemimpinnya, maka hendaklah dia bersabar, karena sesungguhnya barangsiapa yang menyelisihi jama’ah walau hanya sejengkal, lalu ia mati, maka ia mati seperti kematian jahiliyah (HR. Ahmad, 2357,2568,2683, ad-Darimi, 2407; Muslim 3438, 3439, Bukhari, 6530,6531,6610).

Ketidak senangan rakyat terhadap penguasa tentu banyak sebab, antara lain: kurang diurus, kebijakannya menguntungkan kelompok tertentu saja, norma agama-agama banyak yang diabaikan, rakyat terbebani begitu berat demi kepentingan Negara, bernuansa ateisme-komunisme, hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah, korupsi di kalangan atas hanya ditangani dengan cara tebangpilih atau hanya sekedar’ketoprak’, atau secara umum rakyat merasa terdhalimi. Dalam posisi demikian, rakyat harus bersabar. Rakyat tidak boleh memberontak. Kalau sampai memberontak dan terbunuh karenanya, ia terhitung mati konyol (jahiliah), sebagaimana disebutkan dalam hadis di atas.

Realitas kesabaran rakyat terhadap penguasa dhalim dianjurkan untuk tidak bergabung dan mendukungnya. Jika rakyat yang tidak bergabung dalam pemerintahan dhalim dan pembohong menghimpun kekuatan politik, maka format politiknya harus oposisi. Jika partai itu berkoalisi dengan pemerintah, itu namanya bergabung untuk mendukung kebohongan dan kedhalimannya. Demikian antara lain petunjuk Nabi:

عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ دَخَلَ وَنَحْنُ تِسْعَةٌ وَبَيْنَنَا وِسَادَةٌ مِنْ أَدَمٍ فَقَالَ إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ يَكْذِبُونَ وَيَظْلِمُونَ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكِذْبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَيُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَهُوَ وَارِدٌ عَلَيَّ الْحَوْضَ

Dari Ka’ab bin Ujrah ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah keluar atau masuk menemui kami, saat itu kami berjumlah sembilan orang. Dan di antara kami ada bantal yang terbuat dari kulit. Beliau lalu bersabda: “Sesungguhnya akan ada setelahku para pemimpin yang berbuat kedustaan dan kezhaliman. Barangsiapa mendatangi mereka kemudian membenarkan kebohongan mereka, atau membantu mereka dalam kezhalimannya, maka ia bukan golonganku dan aku bukan golongannya. Serta ia tidak akan minum dari telagaku. Barangsiapa tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu mereka dalam berbuat dhalim, maka ia adalah golonganku dan aku adalah golongannya. Kelak ia akan minum dari telagaku (HR.Ahmad,17424, at-Turmudzi, 2185, an-Nasai).

Fenomena NKRI
Ini tidak menuduh penguasa atau siapapun. Hanya rakyat merasakan banyak terdapat sejumlah gejala di negeri ini yang kurang menguntungkan rakyat. Pertama, ketenagakerjaan, banyak rakyat menganggur tetapi mendatangkan ratusan ribu tenaga kasar asing dengan gaji yang sangat fantastik diukur dari UMR daerah manapun di negeri ini.

Kedua, Perekonomian Negara sangat menguntungkan pihak asing, terutama yang berbau dengan ras Cina-komunisme.Rumor ramai, negeri ini dicengkeram Sembilan naga.

Ketiga, komunisme yang secara perundang-undangan bertentangan dengan pancasila dibiarkan tumbuh. Malah sepertinya di-kudang-kudang.

Keempat, pemilikan tanah oleh konglomerat, terutama yang berbau dengan ras Cina sangat mengkhawatirkan rakyat banyak. Banyak kasus hunian rakyat sejak puluhan tahun digusur begitu saja lataran sudah ada pemilik baru legal bersertifikat yang pemrosesannya senyap.

Kelima, kebijakan kebutuhan sembako lebih mengutamakan mengimpor daripada memberdayakan petani dalam negeri.

Keenam, Pajak, BPJS, listrik, BBM, dan tabung gas melon untuk kebutuhan rakyat meningkat tajam, merupakan beban yang ditanggung oleh rakyat bawah.

Ketujuh, mega korupsi seperti jiwasraya, asabri, centruri, dan masih banyak lagi sangat merugikan Negara. Justru kasus ini berada di lingkungan istana.

Kedelapan, Uluk salam menurut ajaran Nabi Muhammad diganti dengan salam pancasila

Kesembilan, ungkapan viral penghinaan terhadap agama, bahwa agama adalah musuh terbesar Negara tidak diambil tindakan hukum oleh Negara

Kesepuluh, Komunitas LGBT dilindungi Negara dan tidak dibina agar kembali kepada orientasi gender yang jelas, legal, dan sah menurut aturan agama.

Kesebelas, diskrimanasi membabibuta terhadap agamawan dengan klaim radikalisme

Keduabelas, penghitungan hasil pemilu yang kurang valid dan pengumuman pemilu tengah malam, yang ini tentu sangat kurang lazim.

Ketigabelas, Penyelenggara pemilu tingkat desa, yang konon lebih dari 500 orang meninggal tanpa ada pengusutan.

Keempatbelas, Orang Islam dituduh teroris, begitu mudah dideteksi keberadaannya, mencari Harun Masiku nggak ketemu-ketemu.

Tentu masih banyak lagi hal-hal yang sebenarnya muncul dari kebijakan atau perilaku politik yang tidak mengindahkan kejujuran. Ke 14 poin ini sudah cukup untuk menyatakan bahwa aura politik negeri ini kurang kondusif. Menjadi musibah besar ketika tokoh atau ormas Islam justru bukan hanya sekedar mendukung, melainkan mencari untung dengan aji mumpung.

Dalam posisi ini, umat Islam yang sadar akan makna hadis di atas harus bersabar. Mereka tidak memberontak, tetapi juga tidak mendukung dan membenarkan, apalagi bergabung. Sudah barang tentu, hal-hal yang secara esensial sinergi dengan doktrin agama, terutama agama Islam. Umat Islam wajib mendukungnya. Contoh menjalin kerukunan terhadap pemeluk agama yang berbeda.

Dalam aura politik sekarang ini, ormas atau parpol yang menggunakan label atau bernuansa Islam mestinya tidak mendukung dan tidak bergabung terhadap seluruh kebijakan politik yang kurang menguntungkan rakyat banyak. Pemihakan harus dijatuhkan pada oposisi, tetapi tidak dengan kekerasan, melainkan dialog demokratis untuk menuju kehidupan makmur yang berkeadilan, atau adil yang berkemakmuran. Pada gilirannya, bukan sabar yang harus diinjeksikan kepada massa, melainkan rasa syukur. []

*Penulis adalah Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus (MTDK) PWM Jawa Tengah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here