IMM Pekalongan Minta Bupati Tegas Instruksikan Masjid Tak Laksanakan Shalat Berjamaah Sementara Waktu

0
Ketuam IMM Pekalongan Slamet Aji Nugroho. (foto/istimewa)

TabloidCermin.Com, Pekalongan – Ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pekalongan Slamet Aji Nugroho meminta Bupati Pekalongan mengeluarkan instruksi agar masjid-masjid di Kabupaten Pekalongan tidak melaksanakan sholat jum’at dan shalat rawatib berjamaah untuk sementara waktu. Permintaan tersebut sebagai respon atas Surat Edaran Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah mengingat Virus Corona (Covid-19) masih menjadi pandemi global.

“Kami minta Pak Bupati tidak ragu untuk instruksikan masjid-masjid tak laksanakan shalat berjamaan dulu,” ucap Aji, Sabtu (4/3/2020).

Aji mengatakan, jamaah shalat jum’at di masjid-masjid Pekalongan saat ini banyak yang baru pulang dari daerah perantauan. Utamanya dari Ibu Kota Jakarta yang notabenenya masuk zona merah Covid 19.

“Per tanggal 31 Maret 2020 terdapat 12.900 warga Pekalongan yang pulang kampung. Hal ini cukup mengkhawatirkan karena penularan Covid 19 ini begitu cepat,” katanya.

Menurut Aji, masyarakat umum di Kabupaten Pekalongan tidak tau siapa yang positif corona atau tidak karena virus yang menyebar dari Wuhan Cina tersebut tidak kelihatan. Sehingga untuk mencegah penularan perlu ekstra hati-hati.

Aji juga mengatakan, pihaknya menerima laporan dari masyarakat bahwa salah satu masjid di Pekalongan tiba-tiba kedatangan jamaah dari luar daerah. Masyarakat setempat menduga jamaah tersebut berasal dari luar desa. Mereka berpindah masjid karena masjid di kampungnya tidak melaksanakan shalat jum’at.

“Contohnya di Desa Ketanonageng. Saya dapat laporan bahwa di masjid tersebut jum’at kemarin membludak. Kebetulan Desa Ketanonageng berada di perbatasan dengan Kabupaten Pemalang. Padahal di Kabupaten Pemalang tepatnya di Desa Sidorejo Kecamatan Comal sudah ada 2 warga positif corona,” paparnya.

Aji menilai, masih adanya masjid yang melaksanakan shalat jum’at di tengah situasi darurat Virus Corona karena perbedaan pemahaman agama, terutama terkait Covid 19 ini. Sebagian masyarakat memilih tetap ke masjid bagi mereka hal itu menjadi bukti keimanan kepada Allah dibanding takut Corona.

“Sebagai umat Islam sebaiknya mengikuti anjuran dari MUI. Karena MUI adalah lembaga keagamaan yang legal. Di dalamnya sudah barang tentu diisi orang-orang yang kompeten di bidang agama. Fatwa keagamaan sudah pasti sangat berdasar,” tandasnya.

Melihat keadaan tersebut, menurut Aji, peran Pemerintah Kabupaten Pekalongan menjadi sangat vital untuk memutus rantai penyebaran Covid-19. Aji mendesak Bupati Pekalongan untuk secepatnya mengeluarkan surat edaran atau instruksi resmi bagi masjid-masjid di Kabupaten Pekalongan agat tidak melaksanakan shalat berjamaah untuk sementara waktu.

“Pak Asip itu kan santri. Pasti beliau lebih paham lah tentang kaidah fiqih dan ushul fiqih. Jadi tidak perlu ragu-ragu,”pungkasnya.

Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah melalui tausiah resmi menganjurkan kepada masjid-masjid agar tidak melaksanakan shalat jum’at untuk sementara waktu. Bahkan MUI juga menganjurkan agar masjid-masjid tidak melaksanakan shalat rawatib berjamaah. []

Reporter: Fawaid
Editor: M. Arif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here