Apakah Corona Bertasbih?

0
M. Danusiri/Istimewa

Oleh M Danusiri*

TabloidCermin.Com – Banyak orang mengatakan bahwa kemunculan Corona disebut sebagai pandemi, teroris yang paling menakutkan, dan musuh bersama yang harus diperangi. Ucapan ini muncul mulai dari WHO (World Health Organization), ulama, pemerintah, para ilmuwan di bidang kesehatan maupun bidang keahlian pandemi, hingga orang awam. Komentar mereka didasarkan pengamatan empirik: membaca, mendengar berita maupun laporan penelitian, hingga yang mengamati secara langsung dengan alat super canggih tentang apa hakikat corona melalui alat microscopis, dan penyebarannya yang begitu cepat mendunia.

Reaksinya pun bermacam-macam. Segolongan mengecam bahwa corona adalah tembakan senjata biologis apakah dari Amerika serikat yang berpaham kapitalisme atau RRC yang berpaham komunisme dengan tujuan penguasaan ekonomi, politik, maupun militer yang semuanya bersifat global. Dunia, maunya dikuasai sendiri. Sebagian lain berpikiran bahwa tanda kiamat telah dekat selanjutnya agar segera bertaubat sehingga jika terkena wabah itu dan meninggal, semoga  Allah berkenan mengampuni segala dosanya. Sebagian lain berpendapat bahwa kemunculan corona sebagai wabah adalah teguran Allah karena manusia begitu sombong dan telah melupakan Allah sehingga membuat kerusakan di muka bumi.

Usaha penyelamatan dari “serangan” wabah corona pun dilakukan menurut protokol resmi dari pemerintah atas anjuran para ilmuwan kesehatan, baik yang bersifat individual seperti selalu mencuci tangan dengan sabun, keluar rumah menggunakan masker, berjemur, memperbanyak memakan vitamin C, tidak saling bersentuhan satu sama lain, hingga bersifat massal dengan teknik lock down atau PSBB. Komentar ulama yang berkaitan dengan corona, apakah bernada mengajak taubat,  mengeritik pemerintah,  melaknat RRC atau Amerika Serikat selalu semangat dan tidak ada yang tidak berdalil apakah dari ayat al Quran maupun Hadis Nabi. Pada gilirannya rakyat bawah bingung, mana yang harus diikuti sebagai kebenaran untuk menyelamatkan diri dari “serangan” corona. Penulis memandang ada hasanah yang terlewatkan dari para ulama dalam memandang apa dan siapa  sebenarnya corona itu.

Segala Sesuatu Bertasbih
Kalau kita mengkaji al Quran, ternyata ada petunjuk bahwa segala sesuatu itu bertasbih kepada Allah. Contohnya adalah ayat al-Qur’an Surah al-Hadid ayat 57: “Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS.al-Hadid/57:1).

Ayat yang menjelaskan ketasbihan segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi sebagaimana ayat di atas  bukan satu-satunya, melainkan juga terdapat dalam QS.al-Hasyr/59:1 dan ash-Shaaf/61 :1. Ayat-ayat ini dalam menjelaskan aktifitas tasbih menggunakan kata kerja fiil maḍi, menunjukan makna masa lampau. Jadi, makna “sabbaḥa” adalah “pasti telah bertasbih”. Karena bentukan kata kerja itu berpola fiil ruba’i mazid dengan men-syaddah fa fiil, huruf “bak”, maka kandungan arti kata “sabbaḥa” adalah benar-benar telah bertasbih atau telah bertasbih secara sungguh-sungguh. Mengapa bisa dipahami demikian? Pola (wazan) rubai mazid faala (فَعَّلَ) menunjukkan faidah lil muballaghah, artinya untuk menyangatkan.

Di samping itu juga terdapat penjelasan ayat sebagaimana ayat-ayat di atas, tetapi menggunakan kata kerja fiil mudhari, yusabbiḥu. Contohnya adalah ayat 24 surat al-Hasyer: “Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepadaNya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS.al-Hasyr/59:24).

Ayat yang menjelaskan ketasbihan segala sesuatu dengan menggunakan pola kata kerja “yusabbihu” juga terdapat dalam: QS.at-Taghabun/ 64:1. Kata kerja fiil muḍari mengandung makna zaman hal (masa sekarang) dan zaman mustaqbal (masa yang akan datang. Paduan antara fiil muḍari dengan pola rubai mazid faala (فَعَّلَ) menjadi “yusabbiḥu” mengandung makna sedang benar-benar bertasbih dan akan terus-menerus  bertasbih. Apa yang bertasbih? Apa dan siapa saja yang ada di langit maupn di bumi. Bertasbih kepada siapa? Pasti kepada Allah. Mengapa demikian? Yang memberi informasi bahwa apa dan siapa saja bertasbih adalah Allah sendiri melaui firman-firman-Nya.
Surat az-Zumar/39 ayat 75 menyebutkan bahwa Malaikat, jama dari kata al-Malak pada bertasbih. Surat ash-Shad/38 ayat 18 menyebutkan bahwa gunung-gunung itu pada bertasbih kepada Allah. Manusia tidak bisa membedakan naturalisme gunung sedang meletus dan memuntahkan lahar panas berakibat bencana bagi manusia dan makhluk hidup lain di sekitar gunung atau sedang non aktif itu bertasbih atau murka.

Surat al-Anbiya/21 ayat 79 menyebutkan bahwa gunung maupu burung pada bertasbih. Manusia tidak tahu ketika burung berkicau itu bertasbih atau non bertasbih. Ketika manusia mengatakan bahwa burung itu hanya berkicau, jelas lebih banyak salahnya daripada benarnya. Mengapa? Informasi dari Allah kepada manusia sangat terbatas, yaitu hanya bibatasi bahwa burung bertasbih.
Surat ar-Radu/13 ayat 13 menyebutkan bahwa bersama Malaikat, petir itu bertasbih dan bertahmid kepada Allah karena takut kepada-Nya. Manusia tidak bisa membedakan ketika petir itu, menggunakan bahasa manusia, menyambar pohon hingga terbakar atau menyambar manusia hingga mati terbakar, sedang marah atau itu bentuk tasbihnya kepada Alah.

Allah memang merahasiakan bentuk tasbihnya apapun selain manusia. Demikian Allah berfirman: “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun” (QS.al-Isra/17:44).

Ayat ini mengandung pengertian yang lebih komrehensif tentang aktifitas tasbih, bukan hanya yang ada di langit dan bumi, melainkan apa saja yang ada di langit hingga tingkat tujuh, apa yang ada di perut bumi, bukan hanya di permukaannya, masih ditambah penjelasan wa inna min syaiin illa yusabbiḥu (dan tidak segala sesuatu kecuali bertasbih). Ayat itu juga dapat dipahami bahwa manusia tidak mengetahui cara bertasbih Malaikat, burung-burung, gunung, petir, atau secara umum non manusia. Sebaliknya, apa saja tidak mengetahui cara bertasbih manusia. Gunung tidak memahami tasbih burung, demikian sebaliknya. Petir tidak mengetahui tasbih burung, demikian sebaliknya. Singkat kata, masing-masing spesia hanya mengetahui cara tasbih mereka sendiri. Hanya Nabi Sulaiaman as yang diajari tentang bahasa burung, (ullimna manthiqaththairi) di samping memahami bahasa semut. Dia memang diberi kelebihan oleh Allah antara lain pasukan penyangga negara terdiri atas: jin, manusia, dan burung.  (QS.an-Naml/27:16-18).

Corona Bertasbih?
Mengambil pelajaran dari semua ayat yang dikutip itu begitu mudah menggiring generalisasi bahwa corona itu bertasbih kepada Allah. Ya, corona bertasbih. Corona adalah bagian dari sesuatu yang ada di alam semesta. Menyatakan bahwa corona bertasbih bisa menggunakan cara berpikir induktif maupun induktif.
Cara berpikir induksi adalah menjelaskan bahwa sebanyak  berapapun premis, kandungannya lebih sempit dari pada generalisasinya. Contoh: burung bertasbih, gunung bertasbih, Malaikat bertasbih, petir bertasbih, sebagian  manusia bertasbih, dan apa saja yang di langit dan bumi bertasbih. Maka semua makhluk bertasbih. Sebaliknya,  cara berpikir deduksi  bertolak dari kebenaran umum sebagai premisnya. Konklusinya mesti harus lebih sempit pengertiannya dibanding premis maior. Contoh: segala sesuatu bertasbih (diyakini benar atas dasar iman pada firman Allah, yusabbiḥu lahu ma fissamaawati wal arḍ).

Corona adalah sesuatu. Jadi, corona bertasbih. Insya Allah silogisme ini benar sacara rasional dan imaniah, meskipun secara empirik perlu kajian lebih lanjut. Atas dasar kesimpulan bahwa corona bertasbih, mengatakan bahwa corona merupakan musuh bersama, kalimat ini salah besar jika ducapkan oleh seorang mukmin yang tahu bahwa segala sesuatu di jagad raya ini bertasbih.

Berlomba Dalam Bertasbih
Telah dijelaskan bahwa petir menyambar pohon atau manusia, sejauh yang dipahami melalui ayat Alquran, adalah bertasbih. Selama ini manusia keliru terhadap hakikat kehidupan petir. Kekeliruan itu terlihat umpama dari pernyataan “Si Mamad meninggal karena disambar geledeg (petir). Dari pernyataan ini dapat dipahami bahwa virus corona  berada di tubuh manusia, khususnya pada rongga pernafasan yang akhirnya bisa merenggut nyawa manusia, pada hakikatnya adalah bertasbih, meskipun manusia membahasakannya bencana. Jadi, secara praktis, dalam kasus tertentu identik dengan bencana.

Ketika manusia menyembelih kambing, sapi, unta, dan ayam untuk keperluan kurban, atau syukuran, di dalam menyembelih mengucapkan asma Allah dapat dikatakan sebagai bertasbih. Akan tetapi hal itu adalah bencana bagi binatang yang disembelih. Buktinya, kehidupannya berakhir. Bukan hanya berhenti sampai di situ. Binatang tersebut kemudian dimasak dengan berbagai model kuliner. Selanjutnya, manusia memakannya tanpa lupa berdoa dan menyebut asma Allah. Inipun juga dikatakan bertasbih.

Memerhatikan pola tasbih petir, burung, gunung, dan corona ada yang bersifat menimbulkan bencana bagi manusia, sebagaimana tasbih manusia menimbulkan bencarna bagi kerbau, sapi, unta, ayam, kambing, itik, dan ungags-unggasan lain. Jadi, sebenarnya bertasbih itu ada dua macam, tasbih bil qauli dan tasbih bil arkan atau bil amal. Contoh tasbih bil qauli antata lain subaḥanllah atau subaḥanllahil adhim, atau subaḥanllahi wabiḥamdih. Secara umum, tasbih bil qauli adalah mengucapkan kalimah thayyibah. Membaca Alquran, shalawat dan asmaul husna menurut tuntunan Rasulullah tentu masuk dalam lingkup bertasbih, lebih-lebih ibadah maḥḍah. Mengapa?

Di dalam ibadah maḥḍah berisi mengagungkan asma Allah dan memohon sesuatu kepada-Nya. Tasbih bil amal adalah seluruh refleksi hidup yang ditujukan untuk memperoleh ridha Allah. Dalam yang telah familiar, tasbih bil amal adalah identik dengan ibadah ghairu mahdah. []

*Penulis adalah Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus (MTDK) PWM Jawa Tengah.

Danusiri*

TabloidCermin.Com – Banyak orang mengatakan bahwa kemunculan Corona disebut sebagai pandemi, teroris yang paling menakutkan, dan musuh bersama yang harus diperangi. Ucapan ini muncul mulai dari WHO (World Health Organization), ulama, pemerintah, para ilmuwan di bidang kesehatan maupun bidang keahlian pandemi, hingga orang awam.
Komentar mereka didasarkan pengamatan empirik: membaca, mendengar berita maupun laporan penelitian, hingga yang mengamati secara langsung dengan alat super canggih tentang apa hakikat corona melalui alat microscopis, dan penyebarannya yang begitu cepat mendunia.

Reaksinya pun bermacam-macam. Segolongan mengecam bahwa corona adalah tembakan senjata biologis apakah dari Amerika serikat yang berpaham kapitalisme atau RRC yang berpaham komunisme dengan tujuan penguasaan ekonomi, politik, maupun militer yang semuanya bersifat global. Dunia, maunya dikuasai sendiri. Sebagian lain berpikiran bahwa tanda kiamat telah dekat selanjutnya agar segera bertaubat sehingga jika terkena wabah itu dan meninggal, semoga  Allah berkenan mengampuni segala dosanya. Sebagian lain berpendapat bahwa kemunculan corona sebagai wabah adalah teguran Allah karena manusia begitu sombong dan telah melupakan Allah sehingga membuat kerusakan di muka bumi.

Usaha penyelamatan dari “serangan” wabah corona pun dilakukan menurut protokol resmi dari pemerintah atas anjuran para ilmuwan kesehatan, baik yang bersifat individual seperti selalu mencuci tangan dengan sabun, keluar rumah menggunakan masker, berjemur, memperbanyak memakan vitamin C, tidak saling bersentuhan satu sama lain, hingga bersifat massal dengan teknik lock down atau PSBB. Komentar ulama yang berkaitan dengan corona, apakah bernada mengajak taubat,  mengeritik pemerintah,  melaknat RRC atau Amerika Serikat selalu semangat dan tidak ada yang tidak berdalil apakah dari ayat al Quran maupun Hadis Nabi. Pada gilirannya rakyat bawah bingung, mana yang harus diikuti sebagai kebenaran untuk menyelamatkan diri dari “serangan” corona. Penulis memandang ada hasanah yang terlewatkan dari para ulama dalam memandang apa dan siapa  sebenarnya corona itu.

Segala Sesuatu Bertasbih
Kalau kita mengkaji al Quran, ternyata ada petunjuk bahwa segala sesuatu itu bertasbih kepada Allah. Contohnya adalah ayat al-Qur’an Surah al-Hadid ayat 57:

“Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS.al-Hadid/57:1).

Ayat yang menjelaskan ketasbihan segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi sebagaimana ayat di atas  bukan satu-satunya, melainkan juga terdapat dalam QS.al-Hasyr/59:1 dan ash-Shaaf/61 :1. Ayat-ayat ini dalam menjelaskan aktifitas tasbih menggunakan kata kerja fiil maḍi, menunjukan makna masa lampau. Jadi, makna “sabbaḥa” adalah “pasti telah bertasbih”. Karena bentukan kata kerja itu berpola fiil ruba’i mazid dengan men-syaddah fa fiil, huruf “bak”, maka kandungan arti kata “sabbaḥa” adalah benar-benar telah bertasbih atau telah bertasbih secara sungguh-sungguh. Mengapa bisa dipahami demikian? Pola (wazan) rubai mazid faala (فَعَّلَ) menunjukkan faidah lil muballaghah, artinya untuk menyangatkan.

Di samping itu juga terdapat penjelasan ayat sebagaimana ayat-ayat di atas, tetapi menggunakan kata kerja fiil mudhari, yusabbiḥu. Contohnya adalah ayat 24 surat al-Hasyer:

“Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepadaNya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS.al-Hasyr/59:24).

Ayat yang menjelaskan ketasbihan segala sesuatu dengan menggunakan pola kata kerja “yusabbihu” juga terdapat dalam: QS.at-Taghabun/ 64:1. Kata kerja fiil muḍari mengandung makna zaman hal (masa sekarang) dan zaman mustaqbal (masa yang akan datang. Paduan antara fiil muḍari dengan pola rubai mazid faala (فَعَّلَ) menjadi “yusabbiḥu” mengandung makna sedang benar-benar bertasbih dan akan terus-menerus  bertasbih. Apa yang bertasbih? Apa dan siapa saja yang ada di langit maupn di bumi. Bertasbih kepada siapa? Pasti kepada Allah. Mengapa demikian? Yang memberi informasi bahwa apa dan siapa saja bertasbih adalah Allah sendiri melaui firman-firman-Nya.
Surat az-Zumar/39 ayat 75 menyebutkan bahwa Malaikat, jama dari kata al-Malak pada bertasbih. Surat ash-Shad/38 ayat 18 menyebutkan bahwa gunung-gunung itu pada bertasbih kepada Allah. Manusia tidak bisa membedakan naturalisme gunung sedang meletus dan memuntahkan lahar panas berakibat bencana bagi manusia dan makhluk hidup lain di sekitar gunung atau sedang non aktif itu bertasbih atau murka.

Surat al-Anbiya/21 ayat 79 menyebutkan bahwa gunung maupu burung pada bertasbih. Manusia tidak tahu ketika burung berkicau itu bertasbih atau non bertasbih. Ketika manusia mengatakan bahwa burung itu hanya berkicau, jelas lebih banyak salahnya daripada benarnya. Mengapa? Informasi dari Allah kepada manusia sangat terbatas, yaitu hanya bibatasi bahwa burung bertasbih.
Surat ar-Radu/13 ayat 13 menyebutkan bahwa bersama Malaikat, petir itu bertasbih dan bertahmid kepada Allah karena takut kepada-Nya. Manusia tidak bisa membedakan ketika petir itu, menggunakan bahasa manusia, menyambar pohon hingga terbakar atau menyambar manusia hingga mati terbakar, sedang marah atau itu bentuk tasbihnya kepada Alah.

Allah memang merahasiakan bentuk tasbihnya apapun selain manusia. Demikian Allah berfirman: “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun” (QS.al-Isra/17:44.

Ayat ini mengandung pengertian yang lebih komrehensif tentang aktifitas tasbih, bukan hanya yang ada di langit dan bumi, melainkan apa saja yang ada di langit hingga tingkat tujuh, apa yang ada di perut bumi, bukan hanya di permukaannya, masih ditambah penjelasan “wa inna min syaiin illa yusabbiḥu (dan tidak segala sesuatu kecuali bertasbih). Ayat itu juga dapat dipahami bahwa manusia tidak mengetahui cara bertasbih Malaikat, burung-burung, gunung, petir, atau secara umum non manusia. Sebaliknya, apa saja tidak mengetahui cara bertasbih manusia. Gunung tidak memahami tasbih burung, demikian sebaliknya. Petir tidak mengetahui tasbih burung, demikian sebaliknya. Singkat kata, masing-masing spesia hanya mengetahui cara tasbih mereka sendiri. Hanya Nabi Sulaiaman as yang diajari tentang bahasa burung, (ullimna manthiqaththairi) di samping memahami bahasa semut. Dia memang diberi kelebihan oleh Allah antara lain pasukan penyangga negara terdiri atas: jin, manusia, dan burung.  (QS.an-Naml/27:16-18).

Corona Bertasbih?
Mengambil pelajaran dari semua ayat yang dikutip itu begitu mudah menggiring generalisasi bahwa corona itu bertasbih kepada Allah. Ya, corona bertasbih. Corona adalah bagian dari sesuatu yang ada di alam semesta. Menyatakan bahwa corona bertasbih bisa menggunakan cara berpikir induktif maupun induktif.
Cara berpikir induksi adalah menjelaskan bahwa sebanyak  berapapun premis, kandungannya lebih sempit dari pada generalisasinya. Contoh: burung bertasbih, gunung bertasbih, Malaikat bertasbih, petir bertasbih, sebagian  manusia bertasbih, dan apa saja yang di langit dan bumi bertasbih. Maka semua makhluk bertasbih. Sebaliknya,  cara berpikir deduksi  bertolak dari kebenaran umum sebagai premisnya. Konklusinya mesti harus lebih sempit pengertiannya dibanding premis maior. Contoh: segala sesuatu bertasbih (diyakini benar atas dasar iman pada firman Allah, yusabbiḥu lahu ma fissamaawati wal arḍ).

Corona adalah sesuatu. Jadi, corona bertasbih. Insya Allah silogisme ini benar sacara rasional dan imaniah, meskipun secara empirik perlu kajian lebih lanjut. Atas dasar kesimpulan bahwa corona bertasbih, mengatakan bahwa corona merupakan musuh bersama, kalimat ini salah besar jika ducapkan oleh seorang mukmin yang tahu bahwa segala sesuatu di jagad raya ini bertasbih.

Berlomba Dalam Bertasbih
Telah dijelaskan bahwa petir menyambar pohon atau manusia, sejauh yang dipahami melalui ayat Alquran, adalah bertasbih. Selama ini manusia keliru terhadap hakikat kehidupan petir. Kekeliruan itu terlihat umpama dari pernyataan “Si Mamad meninggal karena disambar geledeg (petir). Dari pernyataan ini dapat dipahami bahwa virus corona  berada di tubuh manusia, khususnya pada rongga pernafasan yang akhirnya bisa merenggut nyawa manusia, pada hakikatnya adalah bertasbih, meskipun manusia membahasakannya bencana. Jadi, secara praktis, dalam kasus tertentu identik dengan bencana.
Ketika manusia menyembelih kambing, sapi, unta, dan ayam untuk keperluan kurban, atau syukuran, di dalam menyembelih mengucapkan asma Allah dapat dikatakan sebagai bertasbih. Akan tetapi hal itu adalah bencana bagi binatang yang disembelih. Buktinya, kehidupannya berakhir. Bukan hanya berhenti sampai di situ. Binatang tersebut kemudian dimasak dengan berbagai model kuliner. Selanjutnya, manusia memakannya tanpa lupa berdoa dan menyebut asma Allah. Inipun juga dikatakan bertasbih.

Memerhatikan pola tasbih petir, burung, gunung, dan corona ada yang bersifat menimbulkan bencana bagi manusia, sebagaimana tasbih manusia menimbulkan bencarna bagi kerbau, sapi, unta, ayam, kambing, itik, dan ungags-unggasan lain. Jadi, sebenarnya bertasbih itu ada dua macam, tasbih bil qauli dan tasbih bil arkan atau bil amal. Contoh tasbih bil qauli antata lain subaḥanllah atau subaḥanllahil adhim, atau subaḥanllahi wabiḥamdih. Secara umum, tasbih bil qauli adalah mengucapkan kalimah thayyibah. Membaca Alquran, shalawat dan asmaul husna menurut tuntunan Rasulullah tentu masuk dalam lingkup bertasbih, lebih-lebih ibadah maḥḍah. Mengapa?

Di dalam ibadah maḥḍah berisi mengagungkan asma Allah dan memohon sesuatu kepada-Nya. Tasbih bil amal adalah seluruh refleksi hidup yang ditujukan untuk memperoleh ridha Allah. Dalam yang telah familier, tasbih bil amal adalah identik dengan ibadah ghairu mahdah. []

*Penulis adalah Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus (MTDK) PWM Jawa Tengah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here