Aisyiyah dan Upaya Penanggulangan TBC di Jawa Tengah

0

Oleh Fathikatul Arnanda*

TabloidCermin.Com – Setiap tanggal 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional. Anak merupakan potensi dan penerus cita-cita perjuangan bangsa yang memiliki peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus yang memerlukan perlindungan dalam rangka menjamin pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental dan sosial secara utuh. Masa depan bangsa berada di tangan anak saat ini. Semakin baik kualitas anak saat ini maka semakin baik pula kehidupan masa depan bangsa.

Pasal 28B ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak telah mengamanatkan Pemerintah untuk melakukan segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak atas hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Berikanlah hak anak sepenuhnya untuk tumbuh dan berkembang. Salah satunya ialah hak untuk memiliki kualitas hidup yang sehat, dan terbebas dari penyakit menular Tuberkulosis. Tuberkulosis (TBC) merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia terutama negara-negara yang sedang berkembang. Menurut laporan WHO Global Report tahun 2019, pada tahun 2018 Indonesia menempati urutan ke-3 terbesar di dunia sebagai penyumbang penderita TBC setelah India. Penyakit TBC di Indonesia sampai saat ini masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang belum dapat diatasi.
Target eliminasi TBC ini masuk sebagai salah satu point Sustainable Development Goals (SDGs) Target 3 terkait Kesehatan dan Kesejahteraan. Hal ini juga mendorong Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk membuat Strategi Eliminasi TBC dengan milestone di tahun 2035 untuk mengurangi kasus kematian akibat TB sampai 90% dan mengurangi 80% angka insiden TBC dibandingkan dengan angka di tahun 2015.

Di dunia menurut data WHO tahun di tahun 2018 ada 10 juta penderita penyakit TBC dimana jumlah laki-laki secara umum lebih tinggi dengan angka 5.7 juta penderita dan perempuan 3.2 juta dan anak sebanyak 1.1 juta. Di antara penderita TB di dunia, ada 1.5 juta orang meninggal karena TBC, dimana 251 ribu orang yang meninggal karena TB adalah orang dengan HIV. Di antara orang dengan HIV, TBC adalah penyebab kematian tertinggi. Penderita TB Kebal Obat di dunia berjumlah 484 ribu orang.

Profil TBC di Indonesia
Di Indonesia saat ini berdasarkan data tahun 2018 (WHO, 2019) ada sekitar 845 ribu orang menderita TBC dengan 569,879 kasus sudah ternotifikasi sementara sisanya 33% masih belum terlaporkan. Ini berarti ada sekitar 316 kasus TB per 100,000 penduduk di Indonesia. Kematian akibat TB di tahun 2018 juga turun dari 107.000 menjadi 98 ribu orang. Di tahun 2017, setiap jam ada 13 orang meninggal atau sekitar 300 orang per hari karena TBC (Kemenkes, 2018).

TBC juga menyerang sekitar 60.686 anak (atau 11% dari yang ternotifikasi); 37% (sekitar 211 ribu) menyerang perempuan dan 52% (297 ribu) menyerang laki-laki. Karena itu, dari sisi gender, jauh lebih banyak laki-laki di tingkat global maupun di Indonesia yang menderita TBC dibandingkan perempuan. Untuk pencegahan TBC pada anak, saat ini, baru 10% (dengan rentang 9.3-11%) dari anak yang tinggal bersama pasien yang terkonfirmasi TBC yang mendapatkan obat pencegahan TBC (Terapi INH).

Selain TBC pada anak, di dunia ada 477.000 kasus TBC di antara orang yang memiliki HIV dimana 86% nya mendapatkan pengobatan ART (Terapi ARV-Antiretroviral). Di Indonesia, saat ini jumlah orang yang diketahui memiliki koinveksi TB dan HIV menyerang sekitar 10.174 orang atau 5% dari yang status HIV nya diketahui (sebanyak 211 ribu orang TBC). Masih ada sekitar 63% (359 ribu orang) dari total penderita TBC yang belum diketahui status HIV-nya dari yang ternotifikasi TBC. Dari jumlah 10.174 ini, 40% (4082 orang) mendapatkan terapi ARV. Sementara dari jumlah mereka yang HIV positif, baru 10% yang mendapatkan pengobatan untuk pencegahan TBC (INH).

Sementara itu, sesuai Strategi Nasional (Stranas) Penanggulangan Tuberkulosis di Indonsia 2020-2024, upaya penanggulangan TBC di Indonesia tahun 2020-2024 diarahkan untuk mempercepat upaya Indonesia untuk mencapai eliminasi Tuberkulosis pada tahun 2030 serta mengakhiri epidemi Tuberkulosis di tahun 2050.

Aisyiyah Jawa Tengah, melalui program TB HIV Care Aisyiyah yang sudah bergerak sejak tahun 2009 masih konsisten ikut serta dalam penanggulangan Tuberkulosis di Jawa Tengah. Tak terkecuali untuk penanggulangan tuberkulosis pada anak, dimana anak mempunyai hak sepenuhnya untuk tumbuh dan berkembang. Salah satunya ialah hak untuk memiliki kualitas hidup yang sehat, dan terbebas dari penyakit menular TBC.

Aisyiyah yang memiliki tim di 33 kabupaten/ kota di Jawa Tengah selalu melakukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat tentang TBC. Menghimbau kepada masyarakat untuk memberikan vaksin BCG sebagai salah satu upaya pencegahan TBC dan jika ada anak yang sehat serumah dengan pasien TBC, maka lindungi dengan pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) sesuai petunjuk dokter agar tidak tertular TBC
Saat anak terkena TBC, jarang ditemukan gejala batuk berdahak seperti yang diderita orang dewasa. Gejala TBC pada anak sering didahului dengan penurunan berat badan, demam, dan anak tampak pucat, lesu serta kurang bersemangat.

Anak biasanya tertular TBC dari kontak erat ataupun tinggal serumah dengan orang dewasa yang menderita TBC.
Anak-anak dengan infeksi TBC memiliki peluang lebih tinggi untuk berkembang menjadi TBC aktif karena sistem kekebalan tubuh mereka belum berkembang seperti sistem kekebalan orang dewasa. Yuk, jaga sikecil agar terhindar dari TBC dengan cara selalu menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Sebaiknya hindari kontak erat langsung dengan orang yang memikili gejala TBC aktif. Mari kita bersama-sama mendukung gerakan menuju Eliminasi TBC di Indonesia. Segera bawa anak ke dokter bila bergejala TBC. Jika anak sakit TBC, berikan obat secara teratur dan tuntas. Yuk lakukan yang terbaik untuk Anak Indonesia agar Anak Indonesia Sehar dan Bebas TBC. Salam TOSS TBC (Temukan Obati Sampai Sembuh TBC). []

*Fathikatul Arnanda, S. Si, Monev Spesialist Program TB HIV Cate Aisyiyah Jawa Tengah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here