Shalat Formal Vs Shalat Esensial

0
(foto/istimewa)

Oleh: M. Dansiri*

Salat Formal-Tradisional
Tabloid Cermin.com – Pelaksanaan shalat secara tradisional telah berjalan dalam waktu mulai zaman Nabi dulu hingga sekarang dan tetap akan berlaku terus hingga hari-hari dunia berakhir. Disebut formal karena pelaksanaan shalat telah berpola, meskipun banyak variannya. Shalat model NU berbeda dari shalat model Muhammadiyah, berbeda pula model salat LDII, salafi, persis, Jemaah Ahmadiyah, mapun mazhab lainnya.

Perbedaan-perbedaan itu sebenarnya hanya masalah yang tidak membatalkan salat. Umpama, NU selalu membaca basmalah setiap membaca Fatihah maupun ketika membaca surat atau ayat, sementara itu Muhammadiyah tidak membacanya. Kedua versi ini dapat ditemukan rujukannya dari Nabi saw. Karena itu, perbedaan ini harus dianggap selesai karena memang tidak bisa diseragamkan. Mendiskusikan atau berebut bener tentang kaifiyyah tidak akan pernah menghasilkan keseragaman salat.

Gerakan-gerakan kecil dalam praktik salat Nabi sebagaimana diinformasikan oleh rawi hadis memang bervariasi, di samping sering menimbulkan multi tafsir di kalangan ulama fikih. Karena itu, alangkah baiknya kalau masing-masing kelompok menghormati model kaifiyyah salat satu sama lainnya. Biarkan mereka salat menurut model yang telah ada padanya. Jangan serta-merta menyalahkan kalau ada perbedaan praktik salat sebagaimana yang anda peragakan. Mengapa? masing-masing telah tertutup dengan mazhabnya.

Rasanya, mengambil sikap yang paling longgar dengan mentolerasni semua model salat merupakan tindakan bijaksana. Asal masih salat, katakanlah bahwa itu baik. Boleh menjustufikasi jelek kalau mengaku orang Islam tetapi tidak mau salat. Dalam hal ini bisa disebut Islam nominalisme (Islam hanya nama), Islam KTP, Islam abangan, Islam takwinti bagi laki (tetak/supit, kawin, mati) atau winti bagi wanita (kawin, mati), atau selam (ndesel ning ngalam). Tipe Islam seperti itu biasa mangkir salat. Mestinya salat itu lima kali dalam sehari semalam diubah menjadi lima hari lima malam salat satu kali, atau salat hanya Idul Fitri dan Idul Adha.

Di dalam menjustifikasi itupun perlu memperhatikan etika pergaulan santun, lebih-lebih kalau yang mau dijustifikasi itu togamas (tokoh agama dan masyarakat). Jadi tidak asal hantam “neraka kamu, sesat kamu, bid’ah kamu”. Justifikasi ini secara normatif memang diyakini benar, tetapi dimensi dakwah santun terabaikan. Hasil akhir, dakwah itu pasti kurang maksimal atau berantakan sama sekali. Jika kaifiyyah salat yang memang versional ini sudah dianggap selesai, maka perhatian si mushali harus ditingkatkan, bukan hanya sekedar formal, melainkan menanjak pada salat esensial.

Berdoa Dalam Shalat
Yang dimaksud berdoa dalam salat, dalam tulisan ini, adalah doa di luar tuntunan formal umpama doa iftitah, doa sekaligus tasbih dalam ruku’ dan sujud, dan doa ba’da tasyahud qabla salam, melainkan bersifat spontan karena membaca ayat-ayat tertentu. Berdasarkan penuturan ‘Auf bin Malik, Rasulullah selalu berhenti sejenak ketika selesai membaca ayat-ayat rahmat atau ayat-ayat azab untuk berdoa. Demikian penuturannya:

وَقُمْتُ مَعَهُ فَبَدَأَ فَاسْتَفْتَحَ الْبَقَرَةَ لَا يَمُرُّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ إِلَّا وَقَفَ فَسَأَلَ وَلَا يَمُرُّ بِآيَةِ عَذَابٍ إِلَّا وَقَفَ يَتَعَوَّذُ

(Aku berdiri bersama beliau, beliau memulai lalu membuka surat al-Baqarah, tidaklah beliau melintasi ayat rahmat melainkan beliau berhenti lalu meminta dan tidaklah melintasi ayat adzab melainkan beliau berhenti lalu meminta perlindungan diri. (HR. Ahmad, 22855).

Praksisme hadis itu dapat diumpamakan jika kebetulan Rasulullah membaca surat an-Naba’ sampai pada ayat ke 28-30, beliau berhenti sejenak untuk memohon perlindungan dari azab. Jika dibahasakan mungkin intinya demikian: “Allȃhumma innȋ a’ȗẓbika min ‘aẓȃb” karena ayat itu bercerita tentang azab bagi thaghȗn (melampaui batas). Lanjutannya, ayat ke 31-36 bercerita tentang surga sebagai balasan si muttaqin kelak di akhirat, beliau berhenti sejenak, berdoa, kira-kira intinya demikian: “Allȃhumma innȋ as alukal jannah.”

Dialog Komrehensif
Ketika si mushalli membaca surat al-Fatihah, ternyata di dalamnya merupakan dialog intim antara dia dengan Tuhannya, antara yang menyembah dan yang disembah. Demikian hadis menunjukkan pernyataan ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ ثَلَاثًا غَيْرُ تَمَامٍ فَقِيلَ لِأَبِي هُرَيْرَةَ إِنَّا نَكُونُ وَرَاءَ الْإِمَامِ فَقَالَ اقْرَأْ بِهَا فِي نَفْسِكَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ { الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِي عَبْدِي وَإِذَا قَالَ { الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ } قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي وَإِذَا قَالَ { مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ } قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي فَإِذَا قَالَ { إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } قَالَ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ { اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ } قَالَ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam, beliau bersabda, “Barangsiapa yang mengerjakan shalat tanpa membaca Ummul Qur’an di dalamnya, maka shalatnya masih mempunyai hutang, tidak sempurna” Tiga kali. Ditanyakan kepada Abu Hurairah, ” Kami berada di belakang imam?” Maka dia menjawab, “Bacalah Ummul Qur’an dalam dirimu, karena aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Allah berfirman, ‘Aku membagi shalat antara Aku dengan hamba-Ku, dan hambaku mendapatkan sesuatu yang dia minta. Apabila seorang hamba berkata, ‘Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.’ Maka Allah berkata, ‘Hamba-Ku memuji-Ku.’ Apabila hamba tersebut mengucapkan, ‘Yang Maha pengasih lagi Maha Penyayang.’ Allah berkata, ‘Hamba-Ku memuji-Ku.’ Apabila hamba tersebut mengucapkan, ‘Pemilik hari kiamat.’ Allah berkata, ‘Hamba-Ku memujiku.’ Selanjutnya Dia berkata, ‘Hamba-Ku menyerahkan urusannya kepada-Ku.’ Apabila hamba tersebut mengucapkan, ‘Hanya kepadaMulah aku menyembah dan hanya kepada-Mu lah aku memohon pertolongan.’ Allah berkata, ‘Ini adalah antara Aku dengan hamba-Ku. Dan hamba-Ku mendapatkan sesuatu yang dia minta’. Apabila hamba tersebut mengucapkan, ‘Berilah kami petunjuk jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula orang-orang yang sesat.’ Allah berkata, ‘Ini untuk hamba-Ku, dan hamba-Ku mendapatkan sesuatu yang dia minta (HR. Muslim, 598; Abu Dawud, 669; at-Turmuzi, 2877; an-Nasi, 900; Ibnu Majah,3774; Malik, 174; Ahmad, 6990).

Melalui analisis pesan bahasa, ternyata dalam surat al-Fatihah ini benar-benar merupakan forum dialog interaktif vis a vis antara Manusia dan Allah. Ada dua tema besar dalam dialog ini dari pihak manusia, yaitu memuji dan memohon kepada Allah. Sementara itu, Allah mengafirmasi atas pujian manusia dan mempersilahkan untuk meminta sesuatu. Jadi, dalam salat itu merupakan forum yang sangat terhormat melebihi sidang di balai agung kerajaan manusia manapun. Implikasinya, salat esensial harus memenuhi kriteria khusyu’ fisik maupun ruhani. Jika dalam salat tidak bisa menghadirkan suasana dialogis ilahiyah, meminjam istilah Buya HAMKA, hanyalah salat sekelas mesin. Artinya, sehebat apapun kualitas dan kemampuan mesin tidak pernah memiliki kesadaran, apalagi kesadaran ilahiyah.

Dasar utama untuk bisa menyelam ke dalam lubuk terdalam dari shalat esensial adalah paham dan menghayati apa yang sedang diucapkan. Salat model demikian tentu sangat tenang, tumakninah, pembacaan ayat atau surat dari Alquran yang bersifat jahr (bersuara) dilaksanakan dengan tartil dan merdu, bukan membaca model cepat tujuh ayat tanpa nafas, gerakan ruku’ dan sujud terlihat ngebut, dan dalam waktu singkat selesai 21 rakaat. Hanya salat esensial sajalah yang akan berefek tanha ‘anil fahsyȃ’ wal mungkar (QS. al-‘Angkabut/29:45) Mengapa? Untuk menjawabnya dibuat satu ilustrasi. Jika yang dibaca sesudah surat al-Fatihah pada rakaat ke satu dan ke dua mengandung perintah dan dipahami bahwa perintah ini wajib dilaksanakan, pasti akan dilaksanakan sekuat tenaganya. Jika yang dibaca merupakan ayat-ayat tentang larangan dan dipahami haram untuk dilaksanakan, tentu ia akan meninggalkannya jauh-jauh. Jika yang dibaca kebetulan ayat doa, tentu hadir dalam dirinya rasa rendah diri, tamak, dan takut di hadapan Allah (QS. al-A’raf/7:56). Jika yang dibaca itu ayat tentang kebesaran Allah, umpama tiga ayat terakhir surat al-Ḫasyr (QS,59:22-24) tentu intens ia ber-taẓakkur kepada Allah. Itulah fungsi salat untuk berzikir kapada Allah (QS. Thaha/20:14).

Himbauan
Pelaksanaan salat model tarjih insya Allah menurut tuntunan Rasulullah. Akan tetapi, jika salat hanya berhenti di situ, ibarat orang mau bepergian, kendaraan yang ditumpangi belum beranjak dari terminal melaju ke tempat tujuan. Oleh karena itu salat formalisme tarjih harus ditingkatkan kepada salat esensial, yaitu salat yang menghadirkan kesadaran ilahiah berdialog vis a vis dengan Allah. Kompetensi yang dimiliki tentu kepiawaian memahami apa yang dibaca dalam salat, bukan hanya banyak hafalannya, untuk selanjutnya melaksanakannya menurut kontek dan procedural, apakah: perintah, larangan, informasi dunia gaib, etika pribadi, etika sosial, atau yang lainnya.

Shalat formal dan mekanikal dapat diketahui oleh semua pengamat, tetapi salat dialogis dengan Allah, hanya dia sendiri dan yang disembah yang mengetahuinya. Rasulullah sering langsung mensosialisasi dialognya dengan Allah selama menjadi imam salat berlangsung setelah salatnya selesai. Sementara, sahabat yang sudah ma’rifat menurut teori sufistik, seperti Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali tidak bisa menagkap fenomena dialogis Rasulullah dengan Allah.

Ada cara umum mendeteksi salat seseorang formal atau esensial, yaitu dengan mengalogikan antara arus listrik dan nyala lampu pijar. Arus listrik tidak terdeteksi secara inderawi, tetapi dengan cara tertentu bisa memberikan efek menyalakan lampu pijar. Jadi, tipologi salat esensial di samping memberi manfaat kepada diri sendiri juga memberikan manfaat sebanyak-banyak orang. Wallȃhu a’lamu bi ash-shawȃb. []

*Penulis adalah Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus (MTDK) PWM Jawa Tengah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here