Mengintip Masjid Ash-Shoghir: Pusat Berlindung Warga Terdampak Banjir

0

Laporan Adilah Hukmiyati, Ketua IV (Bid. Kemasyarakatan) PDNA Kota Pekalongan

TabloidCermin.Com – Gelap belum tersibak, subuh mulai merayap. Suara adzan terdengar dari pengeras suara Masjid Ash-Shoghir, Kramatsari, Pekalongan.

Jamaah solat mulai bersiap. Tetapi ada yang berbeda; sebagian dari mereka tidak datang dari luar, melainkan sudah hadir sejak sebelum adzan. Mereka adalah para pengungsi yang sementara tinggal di masjid karena musibah banjir melanda kota ini dan terpaksa keluar dari rumah sebab air pun memasuki tempat tinggal mereka.

Ba’da subuh, kesibukan khas dapur mulai terlihat. Beberapa orang menyiapkan kompor, dandang, wajan dan berbagai alat masak. Sebagian berkutat dengan bahan makanan. Ada yang mencuci beras, memotong sayur, meracik bumbu. Ya, dapur umum Masjid Ash-Shoghir memulai geliatnya hari itu.

Berkebalikan dengan namanya, Ash-Shoghir yang berarti kecil, masjid ini justru meledakkan manfaat yang luar biasa besar untuk warga di sekitarnya. Terhitung sejak tanggal 4 Februari 2021 hingga tiga pekan berikutnya, Masjid Ash-Shoghir menjadi tujuan berlindung bagi warga terdampak banjir, dan membuka dapur umum untuk menyediakan makanan siap santap bagi para pengungsi maupun warga lain yang membutuhkan.

Rasa-rasanya 24 jam sehari pun kurang untuk aktivitas sosial di Masjid As-Shoghir. Masjid ini selalu terbuka untuk warga yang membutuhkan makanan, obat-obatan, bahkan evakuasi. Lebih dari 1.350 kilogram beras sudah berubah menjadi nasi di dapur umum ini. Lebih dari 300 kilogram telur sudah dimasak di sana. Lebih dari 10.788 nasi bungkus telah disebar, tidak hanya untuk warga Kramatsari saja, tetapi meluas hingga kelurahan sekitar : Pabean, Jaruk Sari, Tirto, Pasir Sari, Randujajar, dan lain-lain.

Sebanyak 20 orang relawan di dapur umum As-Shoghir seakan tak kenal lelah. Mereka bergantian memasak, membungkus, menyajikan dan membagikan makanan ke wilayah yang masih tergenang air. Dari atas menara masjid, kita bisa menyaksikan sekitar 98 persen wilayah Kramatsari terendam banjir dengan ketinggian yang bahkan mencapai pinggang orang dewasa.

Para relawan ini pun berstatus sebagai warga terdampak. Namun, keadaan yang sulit tidak menjadikan mereka egois, mengasihani diri sendiri atau menumpulkan kepekaan nurani. Ghiroh ini yang menggugah rasa kepedulian pihak luar, sehingga banyak bantuan datang untuk Masjid As-Shoghir.

MDMC dan Lazismu Kota Pekalongan selalu siap mengirimkan bantuan dalam bentuk apa saja ketika dibutuhkan. Bantuan juga datang dari luar kota, dari lembaga maupun perseorangan.

Api dapur umum Masjid As-Shoghir adalah nyala empati, obor kemanusiaan yang harus terus diestafetkan sepanjang bumi ini bernafas, tak boleh padam.
Masjid As-Shoghir dalam kesahajaannya, sedang mengandung, melahirkan sekaligus mendidik generasi yang mengerti betul bagaimana menunaikan al-Ma’uun secara paripurna.

Nun jauh di masa lampau, ada Ash-Shuffah, yakni bagian dari Masjid Nabawi yang menjadi tempat bernaung bagi Muhajirin yang belum memiliki tempat tinggal dan mata pencaharian di awal hijrah. Ash-Shuffah ini kemudian berkembang menjadi ruang singgah untuk para musafir maupun tamu yang bertandang ke Madinah. Para tamu ini dijamu dengan baik oleh para Sahabat, dapat beristirahat dengan nyaman sampai urusan mereka selesai di Kota Nabi.

Abu Hurairah RA adalah wakil bagi ahlu Shuffah, yakni para tamu yang singgah di Ash-Shuffah. Data setiap orang ada pada Abu Hurairah : maksud kedatangan mereka, tempat asal, kualitas ibadah, bahkan Rasulullah SAW bisa menanyakan kesungguhan setiap ahlu Shuffah terhadap Islam kepada Abu Hurairah. Ash-Shuffah adalah role model bahwa demikianlah semestinya sebuah masjid : menjadi tempat berlindung bagi ummat.

Masjid kita telah ‘memaksa’ warga di sekitarnya mendengarkan adzan lima kali sehari. Pun telah ‘memaksa’ warga di sekitarnya mendengar suara khutbah, ceramah, kultum melalui speaker yang seringkali memekakkan telinga.

Maka pada saat yang sulit, Masjid harus mau mendengarkan suara rintihan ummat di sekitarnya. Masjid harus mudah digapai oleh tangan-tangan yang butuh pertolongan. Masjid tidak boleh memagari diri dengan tembok tinggi, tidak boleh mengunci pintu, sebab masjid adalah milik ummat.

Masjid As-Shoghir di Kramatsari 3 gang 11 Kota Pekalongan telah bercermin ke masa Rasullulah, meneladani Ash-Shuffah, memberi sebanyak-banyak manfaat untuk warga di sekitarnya.

Dari Ash-Shuffah kemudian As-Shoghir berabad-abad kemudian di masa kini, kita mengerti bahwa Masjid bukanlah sekadar tempat ibadah, melainkan juga sebagai pusat kemanusiaan. []

Editor: M. Arif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here